Mojokerto – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Ilmu Alquran dan Tafsir (IAT) Universitas KH. Abdul Chalim (UAC) bersinergi dengan FKMTH Jawa Timur sukses menyelenggarakan Seminar Tafsir pada Minggu (8/2/2026). Seminar ini mengusung tema “Berislam dengan Cinta”, sebuah upaya membedah karya literatur terbaru dari Prof. Dr. Aksin Wijaya, M.Ag.
Kegiatan ini berlokasi di Guest House Universitas Abdul Chalim. Peserta seminar ini meliputi mahasiswa Ilmu Alquran dan Tafsir dari berbagai kampus di Jawa Timur serta delegasi dari setiap program studi yang ada di lingkungan UAC.
Seminar ini diadakan karena kekhawatiran atas maraknya konflik yang berakar dari pemahaman agama yang cenderung ‘saklek’. Pada era ini, muncul kebutuhan untuk mendudukkan kembali Islam sebagai agama yang ramah dan memanusiakan manusia. Melalui seminar ini, mahasiswa IAT dibekali perangkat metodologis untuk memahami Alquran agar tetap relevan di era modern.
Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Alquran oleh mahasiswa IAT, dilanjutkan sambutan hangat dari ketua HMPS IAT dan FKMTH Jatim. Seminar kemudian dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Dakwah dan Ushuluddin, Dr. Muhammad Chabibi, Lc., M.Hum., M.IP.
Sesi utama pada seminar ini menghadirkan Prof. Dr. Aksin Wijaya, M.Ag., Guru Besar Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Ponorogo yang sangat produktif dan inspiratif. Urgensi diangkatnya tema ‘Berislam dengan Cinta’ adalah sebagai respons atas realitas konflik keagamaan yang sering kali dipicu oleh cara beragama yang kering akan kasih sayang. Prof. Aksin dalam paparannya menjelaskan bahwa secara epistemologis, cara kita memandang Alquran menentukan cara kita menyikapi sesame manusia. Jika Alquran dianggap sebagai produk budaya, maka metode hermeneutika objektif relevan untuk digunakan. Tujuannya supaya pesan Alquran tetap bisa diterima oleh masyarakat lintas zaman (Shalih li kulli zaman wa makan).
Prof. Aksin menekankan bahwa cinta dalam Islam bukan sekadar konsep abstrak, melainkan paradigma praksis-antroposentris. “Ada 84 ayat dalam Alquran yang membahas mahabbah (cinta). Cakupannya mulai dari hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, sesame manusia, hingga manusia dengan benda-benda di sekitarnya,” jelas beliau.
Antusiasme peserta terlihat sangat tinggi. Terbukti dengan banyaknya peserta yang ingin bertanya pada sesi tanya jawab. Terdapat empat orang peserta yang berkesempatan mengajukan pertanyaan secara langsung kepada narasumber. Sebagai apresiasi, keempat peserta tersebut mendapat hadiah berupa buku karya Prof. Aksin Wijaya yang diserahkan langsung oleh beliau di penghujung sesi. Kegiatan ditutup dengan doa dan sesi foto bersama.
Berislam dengan cinta bukan berarti menanggalkan hukum, melainkan mendudukkan kasih sayang sebagai paradigma tertinggi dalam melihat berbagai problematika. Cinta bukan sekedar perasaan, melainkan ‘seni’ untuk ‘mengadakan’ perdamaian di tengah konflik. jika

